Sukses Budi Daya Jehe dengan Penyemaian Bibit

Sejak zaman dulu, jahe (Zingiber officinale) sudah sangat dikenal sebagai bumbu masak dan obat. Untuk mendapatkan tanaman ini sangatlah mudah. Bahkan, Anda bisa membudidayakannya sendiri di kebun Anda, asalkan dilakukan dengan cara yang benar. Salah satu faktor yang menentukan suksesnya budi daya jahe adalah penyemaian bibit.

Menyemai bibit jahe ini bisa diperbanyak dengan setek rimpang. Agar pertumbuhan seragam, rimpang disemai di tempat yang teduh dan lembab, misalnya di gudang persemaian. Untuk mempertahankan kelembaban, kestabilan suhu ruangan, dan merangsang pertumbuhan tunas, sebaiknya dilakukan penyiraman setiap pagi dan sore.

Sebelum dihamparkan di ruang semaian, lakukan persiapan dengan menata jerami di atas nampan. Letakkan rimpang di antara tumpukan jerami. Tumpukkan jerami akan menciptakan kondisi lingkungan lembab dengan suhu 25-280 C. Setelah 1-2 buloan disemai, pada rimpang akan muncul tunas. Setelah tunas tumbuh sepanjang 2-3 cm, jahe dapat ditanam di lahan.

Lantas, bagaimana dengan volume kebutuhan bibit jahe?

Kebutuhan bibit jahe per hektar lahan adalah 1,2-3 ton, tergantung jarak tanam, pola tanam, dan jenis jahe yang ditanam. Jumlah kebutuhan bibit tersebut berasal dari 3-5 kali bobot rimpang atau setara dengan 6,3-10,5 ton rimpang segar.

Ketika bibit sedang disemai, dilakukan pengolahan tanah di lahan. Tujuannya, selain menghilangkan gulma juga untuk menggemburkan lapisan atas tanah yang subur (top soil) dan lapisan bawah tanah (sub soil), sekaligus mengembalikan kesuburan tanah.

Budi daya jahe dengan cara penyemaian bibit ini ditulis Redaksi AgroMedia Pustaka dalam buku Petunjuk Praktis Bertanam Jahe. Dalam buku tersebut, redaksi AgroMedia juga memaparkan syarat tumbuh tanaman jahe, pengaturan waktu, pola dan jarak tanam jahe, tata cara pemeliharaan tanaman jahe, serta penanganan hasil panen jahe.