Tutup
ismanDilahirkan di Bantul, tanggal 12 Juni 1977. Sejak tahun 2000, penulis menjadi koresponden Majalah Perunggasan Poultry Indonesia untuk wilayah DI Yogyakarta. Selanjutnya...

ayub-s-parnataLahirdi Bandung pada tanggal 4 Desember l932. Menamatkan sekolah HBS (SMA) pada tahun 1951. Tahun 1947, penulis mulai bertani anggrek dan digelutinya sampai sekarang. Pada tahun 1956 bersama kelompok tani anggrek memprakarsai berdirinya Perhimpunan Anggrek Indonesia, berpusat di Bandung.

Selanjutnya...
Panel Atas
YOOtheme

Buku Baru

Ensiklopedia Dinosaurus & Binatang Purba
Ensiklopedia Dinosaurus & Binatang Purba

3 Jam Mahir Membuat dan Menghias Cupcake & MInicake
3 Jam Mahir Membuat dan Menghias Cupcake & MInicake

Dahsyatnya Manggis untuk Menumpas Penyakit
Dahsyatnya Manggis untuk Menumpas Penyakit

Konsultasi Tokek
Konsultasi Lele

konsultasi-lele
Konsultasi Lele

Konsultasi Belut

konsultasi-belut
Konsultasi Belut

Cikal Aksara (imprint)

Seputar Kirim Naskah

tanya-jawab-kirim-naskah

Profil Penulis

Isman
ismanDilahirkan di Bantul, tanggal 12 Juni 1977. Sejak tahun 2000, penulis menjadi koresponden Majalah Perunggasan Poultry Indonesia untuk wilayah DI Yogyakarta.
Read more text
Teknik Tepat Meningkatkan Produksi Pertanian
Ditulis oleh Newsroom   
Selasa, 26 Januari 2010 16:25
Industri pertanian, belakangan ini sering menghadapi banyak masalah. Salah satunya ialah mengenai biaya dan pengadaan pupuk. Pupuk kimia sebagai pupuk andalan para petani, belakangan ini sering terjadi kelangkaan dan harganya sering meningkat tajam.

Kondisi ini memicu petani untuk menciptakan pertanian back to nature. Aplikasinya berupa pemanfaatan pupuk organik berupa kompos atau pupuk kandang. Teknik ini akan mengembalikan kesuburan tanah dan mampu menekan pemakaian pupuk kimia.

Akan tetapi, di satu sisi, penggunaan pupuk alami membutuhkan suplai yang cukup besar. Jika jutaan hektar lahan pertanian di Indonesia menggunakan metode ini, pupuk yang tersedia tidak akan mencukupi kebutuhan secara berkala dengan mutu sesuai standar.

Bagaimanakah solusinya? Ternyata, baru-baru ini ditemukan teknologi baru, yaitu effective microorganism procedure (EMP) untuk menjawab masalah di atas. EMP merupakan teknologi aplikasi inokulan mikroorganisme dalam proses produksi pertanian.

Keunggulannya EMP mampu menekan pemakaian pupuk kimia sekitar 35% serta pupuk kandang dan kompos hingga 50%. Selain itu, EMP juga mampu meningkatkan produksi pertanian hingga 20%, menekan perkembangan gulma, menekan dampak negative residu pestisida, dan mengembalikan keseimbangan kesuburan tanah, baik aspek biologi, fisika, maupun kimia tanah.

Perhatikan tabel berikut.
A. Perbandingan pemakaian pupuk dalam skala 1000 M2.

Jenis

Pupuk

Caisim (kg)

Pakchoy (kg)

Sawi Putih (kg)

Selada (kg)

Umum

EMP

Umum

EMP

Umum

EMP

Umum

EMP

Pupuk kandang

600

300

600

300

1.000

500

600

300

Urea

45

30

45

30

50

35

45

30

SP-36

20

15

20

15

20

15

30

20

KCI

20

15

20

15

30

20

30

20



B. Perbandingan hasil panen dalam skala 1000 M2.

No

Jenis Komoditas

Hasil Penen (kg)

Metode Umum

Metode EMP

1

Caisim

1.030

1.360

2

Pakchoy

1.210

1.415

3

Sawi putih

1.590

2.050

4

Selada

910

1.070


Selanjutnya, bagaimana menerapkan teknologi EMP ini berdasarkan lahan pertanian dan jenis tanamannya. Yakni mulai dari pemilihan inokulan mikroorganisme yang tersedia di pasaran, mengukur kuantitas perbandingan pupuk sesuai jenis tanaman dan luasnya lahan, penyiapan lahan, pengairan, perawatan, pencegahan hama dan penyakit, sampai pemanenan?

AgroMedia Pustaka menerbitkan buku Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran yang ditulis oleh Ir. Wahyudi, seorang pakar pertanian yang sudah lama terjun di bidang agro industri selama belasan tahun. Buku ini memiliki kelengkapan yang Anda butuhkan untuk aplikasi EMP dan penerapannya secara sempurna di lahan pertanian Anda.

Selamat berkarya!


Terakhir diperbarui, Selasa, 26 Januari 2010 17:04