Customer Login

Lost password?

View your shopping cart

Blog

anggrek bulan agromedia

Rahasia Pemupukan Anggrek ala Ade Andriyani

Salah satu bagian penting dalam perawatan tanaman anggrek adalah pemupukan. Pada dasarnya, perlakuan pemupukan pada setiap jenis tanaman anggrek itu berbeda. Usia tanaman anggrek menjadi kunci takaran pupuk yang akan dibutuhkan. Ade Andriyani penulis buku “Membuat Tanaman Anggrek Rajin Berbunga”memberikan ulasannya soal pemupukan, khususnya tanaman anggrek.

Tanaman anggrek muda dan remaja membutuhkan pupuk yang mengandung nitrogen (N) tinggi. Kandungan pupuk nitrogen ini mendorong pembentukan sel-sel baru, khususnya untuk pertumbuhan batang dan daun. Nah, salah satu ciri tanaman anggrek yang kekurangan nitrogen adalah menampilan daun memucat dan pertumbuhannya terhambat.

Sementara itu, pupuk yang mengandung fosfor tinggi diperlukan untuk tanaman dewasa, terutama untuk memacu pembungaan. Pupuk fosfor memiliki kandungan senyawa komplek dan penyusun metabolit, yang berfungsi sebagai pengatur enzim dan proses fisiologis.

bunga-anggrek-di-kebun-okIdealnya, cara pemberian pupuk pada tanaman anggrek melalui daun. Sebab, penyerapan pupuk melalui daun ini lebih efektif daripada penyerapan melalui akar.

Menurut pengalaman Ade Andriyani, pemupukan anggrek perlu dilakukan setiap hari dengan takaran sesuai anjuran. Dengan begitu, tanaman anggrek akan selalu mendapatkan asupan nutrisi. Selain pupuk anorganik yang banyak beredar di pasaran dengan beragam merek, ada juga pupuk organik yang bisa diberikan pada anggrek, seperti sisa air cucian beras, kulit bawang merah, dan pecahan kulit telur.

Agar pertumbuhan lebih maksimal, tambahkan juga pupuk slow release, seperti Methylin urea, di dalam dan di atas media tanam. Bahan-bahan, seperti vitamin atau susu yang sudah kadaluarsa, air sisa infus, air tebu, dan madu juga bisa diberikan ke anggrek sebagai tambahan energi yang bisa membuat anggrek cepat berbunga. Caranya, larutkan bahan-bahan tersebut ke dalam air, lalu siramkan ke anggrek.

Untuk pembahasan lebih lengkap tentang cara bagaimana membuat anggrek rajin berbunga, silakan pelajari ilmunya dari dalam buku “Membuat Tanaman Anggrek Rajin Berbunga.”

Selamat mempraktikkan.

 

 

 

biogas

Biogas; Dari Limbah Ternak Gantikan Energi Listrik & BBM


Pemanfaatan energi biogas mulai banyak diterapkan di Indonesia, terutama wilayah perdesaan. Biogas ini dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti BBM yang kian menipis. Belum lagi, ketika belakangan ini subsidi listrik dihapus, penggunaan energi biogas menjadi salah satu energi alternatif favorit untuk listrik skala rumah tangga.

Satu alasan energi biogas cukup pontensi dikembangkan di Indonesia adalah banyaknya lahan peternakan di negeri ini. Kelompok tani dan peternak bisa memanfaatkan limbah kotoran ternak menjadi biogas. Contohnya saja di desa Kumatanah, Purwakarta. Berkat dukungan pemerintah setempat, biogas dikembangkan di desa ini dan masyarakat pun bisa memangkas pengeluaran untuk listrik dan BBM. Bahkan, dalam perkembangannya, bahan baku biogas yang digunakan tidak hanya limbah peternakan, melainkan limbah pertanian, limbah perairan, limbah industri, limbah sampah organik, hingga limbah kotoran manusia.

biogas

Dalam kesehariannya, warga memanfaatkan energi biogas untuk keperluan sehari-hari, seperti kompor biogas, lampu untuk penerangan, rice cooker, setrika uap, oven, pompa air, water heater, traktor/bajak, dan generator bertenaga biogas.

 

Selain bisa dimanfaatkan dalam skala perumahan, energi biogas memungkinkan sekali diintegrasikan dengan sistem pertanian, peternakan, dan pengelolaan perikanan. Sistem terpadu seperti ini tidak saja dilakukan di negara maju. Bahkan, dalam skala perdesaan pun bisa.

 

Lebih lengkap mengenai biogas dan bagaimana cara kerja dan teknis instalasinya, bisa dibaca dalam buku berjudul ”Biogas; Hemat Energi Pengganti Listrik, BBM, dan Gas Rumah Tangga.” Di dalam buku yang ditulis oleh Sri Wahyuni, SE. , MP, disebutkan bahwa kemandirian pangan dan energi bisa diintegrasikan dengan sistem biogas.  Intinya, pengembangan sistem pertanian terpadu berkelanjutan dilakukan untuk menunjang kemandirian pangan dan energi di perdesaan.

 

Di dalam buku Biogas terbitan Agromedia ini, juga dipaparkan cara membangun instalasi biogas dan perawatannya. Dijelaskan bagaimana cara menghasilkan biogas dari limbah ternak, limbah pertanian, dan sampah organik. Bagaimana memanfaatkan limbah biogas untuk pupuk organik dan pakan lele. Selain itu, dibahas juga bagaimana menerapkan sistem pertanian terpadu yang terintegrasi dengan biogas. Selamat membaca!

bunga anggrek di kebun

Ini Rahasianya Agar Anggrek Bulan Cepat Berbunga

Siapa tidak mengenal Anggrek bulan? Salah satu jenis anggrek yang memiliki nama latin Phalaenopsis Amabilis ini, kini banyak digandrungi. Bentuknya yang unik, sepintas menyerupai kupu-kupu, menyebabkan banyak orang sering menyebutnya Buterfly Orchid. Bersama bunga Padma raksasa (Raflesia Arnoldi) dan Melati, Anggrek bulan masuk dalam kategori Bunga Nasional Indonesia.

Di habitatnya, Anggrek bulan hidup dengan cara menempel (epifit) atau menumpang pada batang pepohonan di hutan-hutan. Bunga ini mampu tumbuh hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan air laut. Dalam perkembangannya, anggrek ini bisa dibudidayakan sendiri di taman hingga di teras-teras rumah.

bunga anggrekSayangnya, banyak penggemar anggrek yang hanya bisa menikmatinya bunganya saja, dan kesulitan kala ingin membungakan kembali. Mereka beralasan, membungakan Anggrek bulan tidaklah mudah. Sebenarnya, untuk membungakan Anggrek bulan tidak terlalu sulit asalkan tahu teknis perawatannya.

Hal yang patut diperhatikan di antaranya penyiraman, pencahayaan, pemupukan, dan penanggulangan hama penyakit. Untuk penyiraman, misalnya, tidak boleh dilakukan asal-asalan, volume dan kuantitasnya harus berdasarkan media tanam dan kondisi cuaca. Misalnya, ketika cuaca sedang terik, penyiraman sebaiknya dilakukan tiga kali sehari.

Dari sisi volume air yang disiram, tanaman anggrek membutuhkan air yang pas. Ini agak sulit, sebab dalam jika penyiraman dilakukan secara berlebihan, anggrek akan cepat membusuk. Penyiraman biasanya disasarkan kepada semua bagian tanaman kecuali bunga, hal ini untuk mencegah bunga cepat layu.

Dari sisi pencahayaan sinar matahari, anggrek bulan membutuhkan paparan cahaya yang sedang (tidak terlalu lama terkena terpaan cahaya langsung). Salah satu ciri anggrek yang terkena sinar matahari berlebihan akan terlihat menguning daunnya.

Selain itu, pemupukan juga harus dilakukan secara tepat. Jika usia anggrek masih muda, berikan pupuk yang mengandung unsur N (Nitrogen), P (Phospor), dan K (Kalium). Selanjutnya, jika tanaman sudah memasuki masa berbunga, bersamaan dengan pemberian pupuk daun, berikan pupuk yang mengandung unsur P lebih tinggi seminggu sekali, tentu dengan memperhatikan takaran yang dianjurkan pada kemasan pupuk.

Di samping pemupukan, faktor kelembapan udara juga menjadi faktor yang memengaruhi pembungaan anggrek. Menjaga kelembapan udara di sekitar tanaman anggrek agar tidak terlalu kering bisa membuat bunga cepat tumbuh dengan waktu yang tidak terlalu lama.

Lebih lengkap seputar perawatan tanaman Anggrek bisa dipelajari lebih detail dalam buku “Membuat Tanaman Anggrek Rajin Berbunga”. Selain Phalaenopsis, beberapa jenis anggrek yang diulas antara lain Cattleya, Dendrobium, Oncidium, dan Vanda. Buku terbitan Agromedia ini, disusun oleh Ade Andriyani, pemilik Orchid Nusery. Penulis memiliki pengalaman cukup lama seputar Anggrek, dan kerap berbagi pengalaman tentang teknis perawatan hingga ke luar negeri.

 

vertikultur agromedia

Membangun Kebun Sayuran Mini di Teras Rumah Menggunakan Vertikultur

Berkebun di area lahan yang terbatas memang membutuhkan kreativitas. Vertikultur bisa menjadi salah satu cara bertanam untuk para hobiis dan para penyuka berkebun sayuran di pekarangan rumah. Kesan pertama memperhatikan dari hasil teknik Vertikultur, adalah soal estetikanya, nyaris mirip susunan tanaman hias. Selain untuk estetika lingkungan, sayuran hasil bertanam pun bisa dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga.

 

vertikultur_agromediaVertikultur adalah sistem tanam yang mengarahkan media tanam dan tanaman ke arah atas ini bisa menjadi alternatif yang menarik. Cara ini pun mudah diaplikasikan siapa saja. Selain bisa diterapkan di darat, vertikultur bisa juga diaplikasikan di atas kolam air. Bahkan ada pula yang mengembangkan tanpa media tanah, dengan hidroponik.

 

Vertikultur bisa dikatakan sebagai solusi berkebun di masa depan. Cara berkebun di lahan sempit ini selain hemat lahan dan aman bagi lingkungan, aktivitas mencangkul atau membajak tanah tidak lagi diperlukan. Terlebih lagi media tanam juga praktis dan mudah dipindah-pindah.

 

Yang menarik, aneka tanaman sayuran seperti seledri, peterseli, pakcoi, kangkung, bisa kembangkan dalam wadah teknik vertikultur. Bahkan, tidak hanya tanaman sayuran, tanaman umbi-umbian, hortikultur, dan tanaman pangan pun bisa tumbuh dengan teknik ini.

 

Nah, terkait masa panen, teknik vertikultur nyaris sama dengan teknik bertanam konvensional. Misalnya, untuk tanaman lombok membutuhkan waktu sekitar 90 hari. Sementara itu, tanaman sawi dan selada memiliki masa panen 40 hari.

 

Beberapa kelebihan lain dari teknik vertikultur di antaranya hemat lahan, hemat air dan pupuk, serta perawatannya pun mudah.

 

Bahkan, jika diseriusi, teknik tanam vertikultur bisa menghasilkan peluang bisnis. Inspirasi bisnis tanaman dengan teknik vertikultur datang dari Suhadi, Pasuruan yang menggunakan lahan 10 x 10 meter persegi untuk ditanami bawang merah. Sekali panen ia menghasilkan sekitar 18 juta rupiah. Setidaknya ada 300 pralon dengan tinggi 2 meter yang ia gunakan. Jadi, selain bisa untuk konsumsi sendiri, hasil sayuran vertikultur juga bisa bernilai ekonomi.

 

vertikultur_agromedia_pralon1Wadah Tanam untuk Vertikultur

 

Wadah untuk menanam dengan teknik vertikultur yang banyak digunakan adalah paralon PVC berukuran panjang 2 meter.

Dalam penerapannya, ukuran paralon diaplikasikan secara berbeda-beda sesuai jenis dan tipe tanaman. Ukuran paralon yang sedang akan cocok jika ditanami caisim, seledri, pakcoi, kangkung, dan peterseli. Hal ini berdasarkan pertimbangan akar tanaman bertipe kecil.

Jarak antartanaman (antarlubang) biasanya menggunakan 20—25 cm. Namun, khusus tanaman cabai diperlukan jarak yang lebih renggang atau menggunakan paralon spiral, sehingga tajuk tanaman satu dengan lainnya tidak bertemu dan tidak terlalu rimbun.

 

vertikultur agromediaUntuk melubangi paralon dibutuhkan gergaji dan panas api. Berikan jarak antara 20—25 cm dan lebar garis 10 cm. Buatlah garis-garis tersebut selang seling. Setelah semua garis jadi, gergaji sesuai ukuran. Lalu panaskan sisi bagian atas garis yang digergaji sampai agak lunak, lalu tekuk ke dalam menggunakan botol beling bekas. Sementara itu, di bagian bawah paralon, sebaiknya dicor atau diberi adonan semen yang diwadahi dengan ember atau baskom bekas.

Selain dengan paralon, para penyuka hobi berkebun bisa mencoba teknik vertikultur menggunakan jeriken bekas, botol bekas, talang air, bambu, kotak bekas tempat telur, dan lain sebagainya. Cara ini bisa dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan kreativitas masing-masing penanam.

Bagaimana Agromate, penasaran dengan teknik tanam ini? Lebih lengkap silakan simak dalam buku “Vertikultur; Bertanam Sayuran di Lahan Terbatas.” Buku ini akan mengajak para hobiis tentang tata cara mudah membuat instalasi vertikultur, tip menyemai dan merawat tanaman, dan cara tepat menanggulangi hama dan penyakit tanaman.

Salam hijau!

 

 

 

 

 

 

 

 

Basmi Hama Belalang dan Ulat dengan Pestisida Nabati

Basmi Hama Belalang dan Ulat dengan Pestisida Nabati

Penggunaan pestisida atau pembasmi hama dan penyakit tanaman secara umum memilliki efek yang membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Bagi lingkungan, pestisida kimiawi berefek pencemaran hingga kerusakan ekosistem. Sementara itu, efek bagi kesehatan manusia adalah bisa merusak kulit dan saraf, mutasi genetik, hingga keracunan yang mengakibatkan kematian.

 

Sebagai alternatifnya, penggunaan pestisida perlu diawasi, dikurangi, bahkan diganti material bahan pembuatannya. Pestisida nabati bisa menjadi salah satu solusi agar terhindar dari pestisida kimiawi.

 

Pestisida nabati terbuat dari bahan organik dan alami, seperti tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita. Beberapa tanaman yang bisa dimanfaatkan antara lain daun pepaya, kunyit, lengkuas, sirih, sereh, tembakau, ki pahit, sirsak, mimba, dan bawang putih. Beberapa tanaman dengan mudah bisa diperoleh di pasar tradisional.

 

Beberapa manfaat dari pestisida nabati antara lain, ramah dan aman bagi lingkungan juga bagi manusia yang mengonsumsi hasil tanamnya. Sifat alami tanaman mudah diurai, tidak beracun, dan proses pembuatannya relatif mudah.

 

Sementara itu, kekurangan dari pestisida nabati, di antaranya tidak tahan lama (pestisida nabati perlu disiapkan sehari sebelum penyemprotan), bahan baku belum bisa disediakan dalam jumlah besar, dan daya kerjanya tidak secepat pestisida kimia.

 

Istilah pestisida nabati, walau terdengar agak asing, sejatinya sama seperti membuat ekstrak dedaunan dan mencampur dengan cairan. Berikut contoh cara mengatasi hama belalang dan ulat dengan pestisida nabati berbahan baku sirih dan tembakau.

 

Bahan dan Alat

sirih1_tembakau

 
50 lembar daun sirih,

5 lembar daun tembakau,

air 20 liter,

sabun cair 20 liter.

ember,

alat penyaring,

alat penumbuk,

alat pengaduk,

 

Cara Membuat

 

  1. Tumbuk daun sirsak dan daun tembakau hingga halus.

gb1_sirih

 

  1. Masukkan bahan yang sudah dihaluskan tersebut ke dalam ember, lalu campur dengan air dan diaduk hingga merata. Diamkan bahan selama satu malam.

 

3_sirih

 

  1. Saring larutan, lalu encerkan dengan 50—60 liter air. Larutan siap diaplikasikan.

 

sirih4_saring

 

Untuk penjelasan lebih lengkap, simak selengkapnya di dalam buku Membuat Pestisida Nabati yang disusun oleh M. Tosin Glio. Buku ini berisi langkah-langkah pembuatan aneka jenis pestisida nabati yang diolah dari berbagai tanaman serta cara menghilangkan hama dan penyakit. Pestisida nabati cocok diterapkan untuk tanaman hidroponik, akuaponik, vertikultur, dan sayuran organik.                                                                                                                                               

 

 

 

 

 

hidroponik organik

Ssstt…Ini Lho 5 Keunggulan Bertanam Sayuran Hidroponik Organik

Bertanam sayuran dengan metode hidroponik ternyata belum tentu organik lho! Coba lihat cara pemberian unsur hara pada hidroponik biasa, sebagian besar menggunakan nutrisi yang berasal dari produk bahan kimia sintetik. Praktik tanam ini dianggap tidak menghasilkan tanaman organik.

Lalu, bisakah hidroponik murni sepenuhnya organik? Hal ini coba dijawab Charlie Tjendapati, seorang praktisi pertanian organik dari Bandung. Ia membuat sistem budi daya hidroponik berbahan pupuk organik. Ia pun berani menjamin nutrisi yang digunakan sepenuhnya menggunakan bahan non kimiawi. Nutrisi berasal dari tanaman Ki Pahit (Tithonia diversifolia). Sementara itu, untuk pestisida juga menggunakan bahan baku nabati, salah satunya berupa buah kacang babi (Tephrosia Vogelii).

Keunggulan Hidroponik OrganikCharlie Tjendapati, seorang praktisi pertanian organik

Keistimewaan hidroponik dengan bahan nutrisi dan pestisida alami ini tentunya memiliki banyak keunggulan. Berikut keunggulan sistem hidroponik organik dibandingkan dengan hidroponik biasa.

  1. Tidak meninggalkan residu kimia di dalam tubuh

Sehatnya tanaman sayuran hidroponik yang dihasilkan secara organik disebabkan tidak digunakannya bahan kimia, baik dalam bentuk pestisida maupun pupuk, selama pemeliharaan dilakukan. Efeknya bagi tubuh, tidak akan tersimpan residu kimia yang jika mengendap dan menumpuk dalam waktu lama dapat merugikan tubuh itu sendiri.

  1. Bahan baku nutrisi tersedia di alam dan murah

Seperti diterangkan sebelumnya, bahan baku pupuk hidroponik organik berupa Ki Pahit tersedia bebas di alam dan mudah diperoleh.

  1. Pemberian nutrisi dalam jumlah berlebih tidak membuat tanaman mati

Inilah bedanya dengan pupuk kimia, tanaman tidak akan mati karena overdosis pupuk alami. Ki Pahit jika diberikan berlebihan tidak berbahaya bagi tanaman sayuran. Meski begitu, takarannya harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman sehingga menghemat dalam penggunaannya.

  1. Hasil produksi maksimum

Berdasarkan pengalaman penulis, hasil panen hidroponik organik tidak kalah dengan bertanam dengan hidroponik biasa. Hal ini dilihat dari sisi bobot maupun cita rasa. Hasil uji coba Charlie untuk tanaman selada dengan metode ini mencapai 250—500 gram/tanaman. Sementara itu, bobot selada dengan hidroponik biasa (menggunakan AB mix) berkisar 150—250 gram/tanaman.

  1. Ramah lingkungan

Pengaruh positif lainnya, penggunaan pupuk alami menjadikan metode tanam ini ramah lingkungan.

 

  1. Biaya produksi lebih rendah

Berdasarkan pengalaman penulis, penggunaan POC dari Ki Pahit bisa memangkas biaya produksi hingga 50%.

 

Kekurangan Hidroponik Organik

Tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan tanaman Ki Pahit. Di balik segudang manfaatnya, ada sedikit kekurangan pada tanaman ini, di antaranya tidak di semua wilayah bisa ditanami tanaman Ki Pahit. Tanaman Ki Pahit umumnya banyak tumbuh liar di perdesaan dan perkampungan.

Untuk mengatasi masalah ini, perlu budi daya tanaman Ki Pahit di berbagai wilayah untuk mendukung pertanian organik, khususnya hidroponik.

Kelemahan lain unsur hara pada tanaman Ki Pahit, unsur makro-nya terlampau sedikit. Hal ini yang membedakan nutri kimiawi seperti dalam AB mix. Nah, untuk mengatasi kekurangan ini, bisa dilakukan penambahan dosis larutan pupuk Ki Pahit.

Karena menggunakan bahan alami, proses fermentasi yang dihasilkan Ki Pahit membutuhkan waktu selama 7—14 hari. Tentu saja cukup lama jika dibandingkan dengan nutrisi kimiawi AB mix.

***

Pada dasarnya, persiapan budi daya cara tanam hidroponik organik sama dengan hidroponik pada umumnya; seperti persiapan instalasi, tahap penyemaian benih, pemeliharaan, hingga masa panen.

Mengenai teknis aplikasi dan perawatan harian hidroponik organik, Charlie Tjendapati telah menyusun panduannya dalam bentuk buku “how to” yang bisa diikuti oleh para penghobi tanaman. Buku yang diterbitkan oleh Agromedia ini berjudul “Bertanam Sayuran Hidroponik Organik dengan Nutrisi Alami.”

Dalam buku ini diulas tip cara menyemai dan merawat sayuran hidroponik organik, cara meracik sendiri POC dan aplikasinya, kiat membuat pestisida nabati, dan cara tepat menanggulangi hama dan penyakit.

Penasaran? Silakan simak bukunya. Dengan cara hidroponik organik, mengonsumsi sayuran hasil panen sendiri lebih sehat lho.

 

***

bebek hibrida bebek unggulan

Bebek Hibrida: Bebek Pedaging Paling Cepat Panen

Peluang usaha beternak bebek hingga kini kian menjanjikan. Lihat saja di berbagai kota, permintaan daging bebek untuk kuliner terus meningkat. Dari warung kali lima hingga resto mewah, menu masakan bebek menjadi pilihan dilirik setelah menu olahan ayam. Rasa khas daging bebek goreng menjadi rekomendasi untuk para pemburu kuliner.

Sementara itu, di sisi peternak hingga distribusi daging, kebutuhan dan kesediaan suplai daging bebek yang meningkat menjadi masalah. Jika dibandingkan, jumlah peternak ayam jauh lebih banyak dibandingkan dengan peternak bebek. Selain itu, untuk menyuplai daging bebek secara cepat, perlu jenis bebek “unggulan”yang cepat panen. Jenis ini dimiliki bebek hibrida; bebek dengan cita rasa daging yang gurih seperti ayam kampung serta tekstur yang lembut dan rendah kolesterol.

bebek hibridaBerikut ulasan keunggulan bebek hibrida.

Bebek ini dikenal sebagai bebek pedaging hasil persilangan yang “klop” antara bebek peking dan bebek lokal. Bebek peking dikenal dengan bentuk tubuh yang pendek namun berisi; terlihat lebih gemuk daripada bebek lokal. Salah satu ciri khas bebek ini adalah memiliki paruh hitam dan ukuran kepalanya cenderung lebih besar dibandingkan dengan bebek lokal, seperti Mojosari, Kedu, dan Turi Bantul. Sementara itu, bebek lokal memiliki ciri khas produksi telur tinggi dan kualitas karkas yang rendah.

Hasil persilangan kedua bebek tersebut menghasilkan beberapa keunggulan seperti tahan dengan berubahan cuaca, cepat tumbuh besar, masa tumbuh besar sekitar 40—50 hari, memiliki karkas daging yang lebih banyak, empuk, dan tidak bau amis.

Keunggulan lain dari bebek ini cocok dipelihara di halaman rumah berlahan terbatas, karena bebek ini tergolong “bandel” atau tahan stres. Bebek ini pun tahan terhadap penyakit. Sementara dari sisi rasa, daging bebek hibrida juga terkenal lebih gurih, seperti ayam kampung dengan tekstur yang lembut dan rendah kolesterol.

 

Artikel terkait: Mengenal 5 Keunggulan Bebek Gunsi 888

 

Syarat beternak bebek hibrida tidaklah rumit. Cukup menyediakan lokasi yang tidak bising dan tidak terlalu lembap. Lengkapi dengan perkandangan menggunakan atap teduh dan kombinasi atap transparan, serta pagar.

Nah, agar berimbang mari kita simak juga kendala dan kelemahan beternak bebek ini. Kendala yang utama, bibit bebek ini dikendalikan oleh perusahaan pembibitan. Bibit atau DOD yang berkualitas pun tergolong langka. Urusan pakan bebek dari bekatul pun tergantung pada musim panen.

Dari sisi konsumen, terkait harga, harga daging bebek terpaut jauh dengan daging ayam. Kebanyakan orang masih memilih daging ayam broiler karena harganya yang lebih murah.

Demikian sekilas keunggulan dan kelemahan dari bebek hibrida. Bagi yang tertarik membudidayakan bebek ini, silakan simak selengkapnya dalam buku “Bebek Pedaging Hibrida”. Buku ini disusun oleh praktisi ternak bebek Eko Angga Supriyanto asal Bantul dan penulis Agribisnis, Maloedyn Sitanggang.

Dalam buku mengulas lengkap seputar perkandangan, pakan, komposisi pakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan umurnya. Macam-macam bahan pakan alternatif juga dipaparkan dalam buku terbitan Agromedia ini.

Berminat? Buku “Bebek Pedaging Hibrida” ini dapat dijumpai di toko buku terdekat di kota Anda. Atau temukan e-book nya di Google PlayStore.

 

budi daya lele sistem filterisasi dan akuaponik

Makin Untung Budi Daya Lele di Kolam Bulat dengan Sistem Biogreen

Satu alasan budi daya lele banyak dipilih para petani ikan tentu saja banyak konsumennya. Menurut catatan, kebutuhan lele segar di Jabodetabek setiap hari mencapai 240 ton. Kebutuhan lele segar ini baru tercukupi 140 ton. Sisanya para peternak lele dari Bogor memasok kiriman lele antara 80  hingga 100 ton.

Budi daya lele bisa menjadi salah satu peluang bisnis yang menjanjikan. Permintaan riil ini datang dari usaha kuliner, seperti rumah makan, pecel lele tenda, katering, dan kebutuhan lain.

Budi Daya Lele Biogreen

Masalah kolam kotor dan bau sering kita dengar terkait budi daya lele. Metode budi daya lele kini kian varitif dan modern,  budi daya lele bersih dan tanpa bau pun sudah ada. Salah satunya dengan metode biogreen.  Bahkan, air kolam lele pun bisa dikonsumsi (diminum). Metode ini ditemukan pada 2014 oleh H. Muhammad Iqbal, S.E, seorang peternak lele asal Bekasi.

Budi daya lele metode biogreen adalah metode budi daya dengan Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB), baik persiapan budi daya, proses budi daya, maupun panen. Intinya, metode ini menerapkan ikan lele yang dibudidayakan bebas dari kontaminasi bahan kimia dan biologi, serta aman dikonsumsi.  

Salah satu ciri dari metode ini adalah penggunaan pakan probiotik, media kolam terpal bulat, dan manajemen budi daya.

 

 

Keunggulan Kolam Terpal Bulat

 

Melalui ratusan kali penelitian dan percobaan dengan cara membandingkan aneka tipe kolam yang cocok untuk budi daya lele selama bertahun-tahun, akhirnya Muhammad Iqbal menentukan pilihan bahwa hanya kolam terpal berbentuk bulat yang mampu mewadahi manajemen budi daya lele dengan probiotik ini.

 

Keunggulan penerapan kolam terpal bulat ini, selain praktis, efisien dan murah, juga mampu menampung lebih banyak bibit ikan lele. Padat tebarnya mencapai 700 ekor lele/meter kubik.

 

Selain itu, kelebihan lain dari sistem ini adalah tanpa perlu mesin aerator (penghasil gelembung untuk menggerakkan ikan), bebas bau dan ramah lingkungan, hemat air, dan hemat pakan, serta tingkat kematian lele rendah.

Instalasi Kolam Terpal Bulat

 

Pengembangan budi daya lele metode biogreen akan optimal jika berada di lokasi dengan suhu 26—36o, C sesuai kebutuhan lele.

 

Menurut jenisnya, kolam dibagi menjadi tiga: kolam tandon air, kolam pembesaran, dan kolam transit untuk panen. Diameter rata-rata kolam antara lain 1 meter, 2,5 meter, hingga 5 meter dengan ketinggian kolam 1 meter.

 

kolam_bulat_budidaya_lele

 

Berikut bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membangun kolam terpal bulat.

 

  1. Rangka kawat besi

 

Rangka kawat dibentuk bulat dengan bagian dasar berbentuk kerucut.

  1. Karpet talang dan terpal
  2. Instalasi pipa air; terdiri dari pipa input air, pipa pembuangan air, dan pipa water level. Siapkan pula lem dan gergaji pipa pralon. 

pipa-pengeluaran-air-3. Atap

Atap biasanya menggunakan plastik UV atau transparan tembus cahaya.

 

Dalam merangkai kolam, siapkan rangkaian besi untuk rangka kolam, karpet talang luar, dan terpal plastik untuk dinding kolam, serta pipa-pipa untuk saluran masuk air, saluran pengeluaran di dasar kolam, dan pipa untuk water level.

tahapan_rangkaian_kolam_bulat

 

permukaan_kolam_lele_bulat

Adapun tahapan merangkai kolam bisa dilakukan dengan cara berikut. Pertama, gali tanah berbentuk kerucut dengan kedalaman yang sejajar dengan rangka bagian dasar kolam yang berbentuk kerucut agar pas saat penempatannya. Agar kolam lebih kokoh dasar kolam disemen dan diberikan jalur masuk dan pengeluaran air. Gali juga saluran pipa air pembuangan. Setelah itu, pasang rangka besi yang sudah disiapkan.

 

Kedua, pasang karpet talang luar pada rangka, lalu pasang terpal plastik. Pasangkan pipa saluran pembuangan dan sambungkan dengan pipa menuju saluran pembuangan berupa got atau saluran air.

 

Ketiga, rapikan posisi terpal pada rangka kolam dengan menarik terpal di bagian tengah agak ke atas ke bagian rangka, sehingga keseluruhan bagian terpal posisinya rata ke seluruh bagian dinding kolam.

 

Keempat, alirkan air ke dalam kolam sambil dicek posisi terpal dan dirapikan. Terpal akan melekat kuat pada rangka apabila kolam telah terisi air tanpa perlu diikat ke rangka. Jika tidak ada masalah, kolam bisa digunakan.

 

Bagaimana Agromate, terinspirasi untuk membangun sistem budi daya lele dengan Biogreen? Bagi yang penasaran ingin mempelajari lebih lengkap, silakan simak panduannya dalam buku “Budi Daya Lele Sistem Filterisasi dan Akuaponik”. Buku ini disusun oleh Muhammad Iqbal, seorang pakar budi daya lele dan pemilik usaha budi daya lele Mas 78 Farm.

 

Dalam buku ini, juga diajarkan cara memadukan budi daya lele biogreen dengan sistem bertanam sayuran secara organik dengan akuaponik.

 

Selamat berinvestasi!

 

kolam_lele_aquaponik

single bucket hidroponik

Hidroponik: Cara Mudah Membuat Instalasi Dutch Bucket Tunggal

Pernah terbayang membuat kebun mini buah-buahan di halaman rumah? Hal ini sangat mungkin dan bisa dibuat oleh siapa saja, terutama dengan metode tanam hidroponik. Mengapa memilih bertanam buah dengan hidroponik? Selain tidak mudah terserang hama, hasil panen sayuran buah dan buah memiliki cita rasa yang lebih renyah dan segar.

 

Salah satu sistem instalasi tanam yang paling populer, praktis, dan sederhana adalah menggunakan instalasi Dutch Bucket. Sistem instalasi ini cocok untuk penanaman sayuran buah, seperti tomat, timun, dan paprika.

 

Untuk memulainya, bisa mencoba instalasi sistem Dutch Bucket tunggal. Instalasi ini menggunakan wadah tunggal. Hal yang perlu diperhatikan dari sistem ini adalah sirkulasi air dan nutrisi harus terus-menerus dialirkan dari tandon nutrisi ke media tanam.

 

single_bucket_hidroponik

Keuntungan memanfaatkan Dutch Bucket adalah bisa memanfaatkan bahan bekas seperti wadah bekas es krim. Berikut tiga manfaat dari penggunaan sistem instalasi Dutch Bucket.

 

  1. Fleksibel, karena bisa diaplikasikan oleh semua orang, baik hobiis pemula maupun pebisnis hidroponik.
  2. Sederhana dan relatif murah, karena bisa memanfaatkan barang bekas.
  3. Tanaman lebih subur, karena sirkulasi air, nutrisi, dan oksigen lebih banyak.

 

Berikut teknis pembuatan instalasi dutch bucket tunggal.

 

Alat dan Bahan

 

  1. Bor hole saw
  2. Gergaji besi, gunting, atau cutter
  3. Pot diameter 10 cm sebagai wadah tanam
  4. Aerotor
  5. Ember dengan tutup sebagai wadah nutrisi
  6. Hidroton
  7. Kain flanel sebagai sumbu

 

Cara Merakit

  1. Lubangi penutup ember sesuai ukuran diameter leher pot.
  2. Buat 4 lubang kecil di penutup ember sesuai dengan ukuran slang aerator.
  3. Buat 4 lubang kecil di dinding ember sebagai lubang udara.
  4. Masukkan kain flanel ke dalam lubang pot.
cara-merakit-hidroponik-sistem-dutch-tunggal
Gambar langkah 1 sampai 4.

 

5. Masukkan larutan nutrisi ke dalam ember dan hidroton ke dalam pot.

6. Masukkan slang aerator ke salah satu lubang di bagian penutup ember.

7. Pasang pot yang sudah terpasang kain flanel ke lubang ember.

8. Masukkan media tanam berupa hidroton dan bibit tanaman ke dalam pot.

hidroponik, sistem bucket tunggal
Gambar langkah 5 – 8.

 

 

9. Instalasi dutch bucket tunggal telah selesai.

10. Nyalakan aerator untuk memastikan sistem berjalan dengan baik.

11. Sistem ini juga bisa menggunakan media tanam berupa sekam bakar.

 

bucket-tunggal_ok
Gambar 9 – 11.

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain dibuat secara tunggal, instalasi Dutch Bucket juga bisa dibuat lebih komplek menggunakan banyak wadah. Dengan demikian, tanaman sayuran buah yang hendak ditanam menjadi lebih banyak. Sebagai panduan teknis pembuatannya, silakan klik link video berikut ini.

 

 

 

Penjelasan lengkap dan ragam pilihan instalasi dalam bertanam hidroponik bisa disimak dalam buku “Panen Hidroponik Buah & Sayuran Buah di Halaman Rumah.” Buku yang diterbitkan Agromedia ini disusun oleh para pakar hidroponik berpengalaman.

budi daya cacing sutra di rak

Peluang Emas: Budi Daya Cacing Sutra di Lahan Terbatas

Keberadaan cacing sutra memang tidak pernah lepas dari kebutuhan petani ikan konsumsi dan pembudidaya ikan hias. Pasalnya, cacing sutra merupakan kebutuhan pokok untuk pakan ikan. Cacing bertubuh tipis ini sangat disukai oleh benih ikan konsumsi, seperti lele, mas, patin, gurami, belut, sidat, bahkan juga ikan hias. Selain digemari ikan, cacing sutra mengandung 53% protein dan 13% lemak, sehingga sangat cocok sangat menunjang untuk pertumbuhan ikan.

 

Pantas saja jika cacing yang tubuhnya menyerupai rambut ini kebutuhan setiap tahunnya terus meningkat. Mengingat, permintaan terhadap penikmat ikan konsumsi dan hobiis ikan hias jumlahnya hampir tidak pernah turun. Hal ini bisa menjadi peluang bagi Anda jika ingin terjun di ceruk bisnis ini. Peluang emas ini bisa dimanfaatkan karena hingga kini belum banyak petani cacing sutra di Indonesia.

 

Yang menarik dari cacing sutra adalah masa panennya yang bisa dihitung dalam hitungan hari, setelah pemeliharaan sebelumnya dilakukan. Hanya dalam waktu enam hari, petani bisa memanen cacing sutra. Tak ada syarat khusus untuk bisa membudidayakan cacing sutra. Yang pasti Anda mesti sudi bergumul dengan tanah dan lumpur, serta tidak jijik memegang cacing sutra.

 

Nah, jika masih kesulitan dengan lahan, siasat lain masih ada. Untuk menyiasati keterbatasan lahan, teknik wadah bertingkat menggunakan nampan plastik bisa dipilih dan diterapkan.

wadah bertingkat budi daya cacing sutra

 

Teknik Budi Daya di Wadah Bertingkat

 

Teknik ini dicetuskan untuk dijadikan solusi bagi peternak yang ingin membudidayakan cacing sutra di pekarangan sempit. Tak perlu luas, di sela-sela pinggiran atau belakang rumah pun bisa dilakukan.

 

Mediumnya rak plastik (nampan) sebagai media budi daya cacing disusun vertikal pada rak-rak lemari bertingkat. Di bawahnya dialiri air yang memutar dari bawah ke atas. Sirkulasi air yang memutar, menjadikan sistem ini lebih hemat air.

 

Sekitar awal 2013, Agus Tiyoso, pembudidaya cacing sistem tray menemukan metode ini. Idenya muncul saat istri Agus membawa nampan minuman. Pria ulet ini lalu mencoba sistem budi daya dalam nampan plastik. Hasilnya dalam hitungan hari cacing sutra mulai bisa dipanen.

budi daya cacing sutra di rak

 

 

Berikut beberapa keuntungan sistem budi daya cacing di wadah bertingkat.

  1. Lewat cara ini penggunaan probiotik lebih hemat. Sirkulasi air yang memutar tidak banyak membuang probiotik dan obat-obatan di media tumbuh budi daya cacing sutra. Selain itu, suplay air juga tidak banyak terbuang, alias lebih hemat.
  2. Budi daya cacing sutra dengan medium ini tidak membutuhkan lahan luas. Cukup dengan lahan 10—15 meter persegi, Anda sudah bisa memelihara cacing sutra.
  3. Saat panen dilakukan di salah satu wadah, maka keberadaan cacing sutra di wadah lain tidak akan terganggu. Sebab, budi daya dilakukan terpisah-pisah di beberapa nampan.

 

Selengkapnya tentang panduan teknik budi daya wadah bertingkat bisa dibaca dalam buku “Panen Cacing Sutra Setiap 6 Hari”. Bagi Anda calon pembudidaya ikan, tentu saja wajib membaca buku referensi yang langsung ditulis oleh Mahmud Efendi, S.Tr.Pi dan Agus Tiyoso. Lewat buku ini Anda dipandu langkah demi langkah untuk membudidayakan cacing sutra yang dapat dipanen setiap 6 hari.

 

Penasaran dengan peluang emas ini? Yuk, simak konsep dan caranya dalam buku terbitan Agromedia ini.