Betulkah Perkopian Kembali Bergeliat, Bagaimana Kondisi yang Sesungguhnya?

Geliat kopi tampak kembali terlihat dibandingkan dengan situasi dua bulan lalu. Hambatan distribusi dan transportasi logistik kopi, kemungkinan akan turut terurai seiring masa peralihan ke New Normal. Kabarnya, seperti dilansir kompas.com permintaan ekspor kopi ke luar negeri tidak terdampak situasi pandemi Covid-19, hanya terkendala penyesuaian jadwal transportasi pengiriman.

Sebaliknya di wilayah industri kopi lokal, terutama di ruang-ruang kedai kopi mengalami penurunan omzet. Diperkirakan omzet  kedai kopi turun hingga 50%. Sementara siasat penjualan online melalui online shop, market place, dan media social, belum bisa menggantikan omzet penjualan kopi di kedai sebelum masa pandemi. Nah, jika permintaan menurun pada industri kopi lokal, tentu saja hal ini bisa berdampak pada nasib petani kopi di hulu.

Belajar mengamati kondisi situasi tiga bulan ke belakang dan antisipasi ke depan untuk industri kopi, apa siasat petani kopi ke depan? Apa yang harus dilakukan komunitas pecinta kopi ke depan? Sabtu (13/06) lalu, lewat obrolan bertema “Kondisi Perkopian Indonesia Di tengah Pandemi” bersama Ir. Edy Panggabean mencoba berbagi. Edy adalah seorang pengamat perkopian dan penulis Buku Pintar Kopi. Perbincangan ini dipandu Untung Prasetyo, editor buku Agromedia lewat fitur Instagram Live.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas Edy mengamati kondisi umum perkopian di Indonesia juga turut terdampak. “Menyikapi hal ini dengan dewasa, dengan waktu, perhatian, energi, semangat, dan energi yang semua harus “dikalikan” lima,” ujar Edy membuka diskusi.

BACA JUGA: Buka-bukaan Strategi Bertahan untuk Kedai Kopi bersama Andika Ajie Sastra, CEO Dewaji Coffeelab

Edy menjawab pertanyaan di atas, dengan memberikan solusi pada cara petani menyimpan kopi pascapanen dengan cara alami (natural). Proses Pengolahan buah kopi secara natural untuk supaya penyimpanan buah kopi cherry bisa sangat panjang, bertahun-tahun. Metode menyimpanan natural ini bisa dilakukan dan menjadi jawaban saat menghadapi situasi yang tidak menentu ini. “Lewat pengolahan dan penyimpanan pangka panjang ini, sewaktu-waktu petani kopi butuh uang ia bisa menjualnya kapan saja,” ujar Edy memotivasi petani kopi.

Langkah lain adalah mendorong “kementerian-kementerian teknis”, serta lembaga keuangan negara untuk mengaplikasi “resi gudang kopi” untuk petani. “Caranya dengan memberikan kemudahan berupa pinjaman kepada petani kopi dengan bunga rendah,” usul Edy yang sudah lama menggeluti dunia perkopian.

Cara lain untuk membantu petani kopi di hulu, komunitas, instansi, dan perorangan bisa membantu dengan cara membeli biji kopi dalam jumlah tertentu. Cara ini salah satu cara membangun motivasi misalnya dengan membeli biji kopi untuk stok di kedai kopi, misalnya 10 hingga 20 Kg. “Bayangkan jika semua kedai kopi melakukan hal ini, petani kopi akan terbantu,” jelas Edy.

Sementara untuk lingkup bisnis kecil, seperti penjualan kopi rumahan, bisa mulai melakukan dengan cara menjual ke tetangga, saudara, atau teman. Edy, membuktikan sendiri bahwa cara ini sudah berhasil dengan mengajari anaknya membuat kopi literan.

Saat ini pria kelahiran Medan, ini sedang sibuk menyiapkan modul kompetensi untuk edukasi di wilayah hulu; budidaya kopi untuk petani kopi Indonesia. Kita tunggu aplikasi pengalaman dan ilmunya untuk petani kopi Indonesia, Bang!

foto: unsplash.com

Tinggalkan Balasan