Cuncun: Trial & Error Membuahkan Hasil Maksimal

Siapa yang tidak kenal dengan jenis udang besar yang satu ini? Ya, lobster. Selain memiliki tubuh yang lebih besar dari udang lainnya, lobster juga memiliki cita rasa yang tinggi saat dikonsumsi. Maka jangan salah, jika prospek bisnis lobster kian meningkat belakangan ini.

Selama ini, mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa lobster adalah binatang laut yang sulit untuk dicari dan dibeli di pasar biasa. Namun, sekarang tidak lagi. Karena sudah banyak orang yang mulai membudidayakan lobster ini dengan nama lobster air tawar. Hal ini pula yang membuat Ir. Cuncun Setiawan melirik bisnis lobster air tawar.

Awal mula menjalankan bisinis lobster air tawar
Pada awalnya, Cuncun memang tidak bermain pada bisnis lobster air tawar. Namun, ia memulai semua itu dari bisnis ikan cupang hias pada tahun 2000 silam. Meski sudah memperluas jaringan bisnis tersebut hingga ke manca negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Korea, Singapura, dan sebagainya, seiring berjalannya waktu bisnis itu pun kian menurun.

Maka, di tahun 2002, Cuncun pun mulai mengalihkan perhatiannya pada bisnis ikan Guppy, Louhan dan lobster untuk hias. Namun, apa mau dikata, ternyata semua yang hias itu memang ada trendnya. Ketika trend tersebut bagus, maka permintaan akan naik. Namun, jika trendnya turun dan sudah banyak orang yang memelihara, maka akan ditinggalkan.

“Demikian pula dengan lobster air tawar ini. Ketika saya amati, orang beli—misalnya 10 sampai 20 ekor—, dipelihara di rumah, tidak mati-mati dan semakin besar. Saya berpikir, kalau begini terus-terusan, semua orang beli lobster air tawar hias, mereka memelihara, dan semua punya, maka tidak akan membeli lagi,” kata pria berkulit putih ini.

Prediksi Cuncun ternyata benar adanya. Di tahun 2003, bisnis lobster air tawar hias akhirnya mengalami penurunan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk tetap menjalani bisnis ini. Ia pun akhirnya beralih ke bisnis lobster air tawar untuk konsumsi. Pasalnya, bidang konsumsi ini memang tak ada habisnya. “Orang akan memakan lobster, mencernanya, lalu membuangnya kembali. Dengan begitu, repeat order-nya pun tinggi,” kata Cuncun menambahkan.

Semua bermula dari trial & error
Keseriusan Cuncun dalam menjalankan bisnis ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai macam cara pun ia coba untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Bahkan bisa dibilang, trial & error sudah menjadi makanan kesehariannya saat mengawali bisnis ini.

“Saya mencoba berbagai macam cara. Mulai dari pembesaran lobster di akuarium, kolam semen, jaring terapung, kolam tanah, dan sebagainya untuk mencari jalan bagaimana membesarkan lobster air tawar semaksimal mungkin dan, tentunya, secepat mungkin,” ujar Cuncun.

Dari berbagai eksperimen tersebut, banyak hal yang didapat oleh Cuncun. “Ternyata, membesarkan lobster di akuarium itu cukup lama. Di kolam semen, lumayan cepat, tapi tetap masih lambat. Dan, memang yang paling cepat itu di kolam tanah dengan teknik pengairan tertentu, oksigen, permainan plankton, dan sebagainya. Hal itu menciptakan kecepatan pertumbuhan yang bagus,” katanya menambahkan.

Berdasarkan hal itu, ia pun mencoba untuk mengembangkan bisnis ini sendiri. Meski ia sadar, kalau pun ia menjalankan ini semua tidak banyak akan membantu karena kebutuhan lobster untuk konsumsi sangatlah tinggi. Dari sana, Cuncun pun menyimpulkan, kalau ingin bermain di bisnis lobster konsumsi, supply haruslah rutin dan continue.

Pada tahun 2004, akhirnya Cuncun mencoba untuk mengembangkan sistem kemitraan. Sistem kemitraan ini dilakukan dengan melakukan pelatihan dan training terhadap orang-orang yang beminat membudidayakan, menernakkan, dan membesarkan lobster.

“Tujuannya, setelah semua ada hasilnya, kita gabungkan hasil-hasil ini sehingga kita bisa supply ke pasar secara rutin. Daripada kita serakah dengan mengambil semua jatah—dengan memproduksi dan memasarkan sendiri tapi akhirnya jatuh juga—saya pikir kita bagi-bagi hasil lah. Sama-sama kita berproduksi dan menjual ke pasar secara rutin serta continue,” kata Cuncun bersemangat.

Prospek bisnis lobster
Bisnis lobster nampaknya tidak hanya tinggi di pasaran internasional saja. Permintaan di dalam negeri pun bisa dibilang sangat menjanjikan. Hal itu disebabkan karena lobster yang dijual-belikan sudah dalam bentuk daging untuk dikonsumsi.

Pada prinsipnya, lobster yang dicari masyarakat tidak berpatokan pada jenis apapun. Yang terpenting, lobster itu besar, ada dagingnya, dan berukuran 1 ons ke atas. Namun menurut Cuncun yang menjadi permasalahan bagi orang yang membudidayakannya adalah mendapatkan spesies lobster air tawar yang pertumbuhannya cepat.

“Tentunya kita ada beberapa pilihan. Misalnya lobster Papua. Lobster Papua itu besar-besar. Tapi ketika kita sudah tangkap dari alam, kita nggak tau nih umurnya berapa. Setelah diuji coba, ternyata pertumbuhannya memang lebih lambat dan untuk kawinnya agak sulit karena mereka sudah terbiasa di sungai dan sebagainya,” ujar pria kelahiran 8 Februari 1978 ini.

Faktor lain yang memengaruhi tingginya prospek lobster air tawar ini adalah kualitasnya sebagai makanan konsumsi yang memiliki kadar kolesterol rendah, rasanya yang tidak beda dengan lobster air laut, mamiliki kadar omega tiga yang tinggi, serta cocok untuk mereka yang alergi terhadap seafood.

Terobosan Baru
Seiring dengan berjalannya waktu, serta berdasarkan pengalaman yang cukup banyak dalam hal membudidayakan lobster, Cuncun pun berhasil melakukan terobosan baru dalam bidang tersebut. Sebut saja salah satunya adalah teknik kolam karpet.

Kolam karpet adalah kolam tanah—mungkin bekas kolam lele, mujair, dan sebagainya—yang bagian dalamnya dilapisi dengan plastik. Dari pematang masuk ke kolam, kira-kira 1 meter. Tujuannya untuk mencegah lobster di dalam tidak keluar dan predator dari luar tidak masuk. Predator ini bisa berupa berang-berang, biawak, atau ular.

Menurut pria kelahiran Cianjur ini, teknik kolam karpet ini sangat efektif, karena bisa mencegah predator masuk ke dalam kolam budi daya lobster. Namun, jika ingin lebih aman dan bagus, sebaiknya di sekitar kolam tersebut ditutup oleh kawat ayam. “Pengalaman saya, kalau predator sudah masuk, bisa lost sekitar 80%,” ujarnya.

Setelah kita mengamankan kolam tersebut dengan berbagai media, satu hal lagi yang perlu dilakukan adalah mengamankan kolam tersebut dari warga sekitar dan penjaga. “Jadi, kita harus mencari orang yang benar-benar bisa dipercaya untuk mengepalai farm tersebut,” kata Cuncun menambahkan.

Penciptaan teknik kolam karpet ini dilakukan Cuncun secara bertahap dan tentunya, semua melalui pengalaman. Penyempurnaan demi penyempurnaan pun dilakukan Cuncun agar teknik kolam karpet itu lebih baik lagi. Beberapa hal di antaranya adalah dengan mengganti karpet yang digunakan dengan plastik yang keras.

Tidak hanya itu saja, Cuncun juga membuka pusat jual beli yang ia beri nama Bintaro Fish Center (BFC). Melalui BFC inilah, Cuncun mengembangkan ilmu dan pengalamannya di bidang lobster dengan membuka training budi daya lobster.

“Untuk training, saya mencoba untuk mengajarkan semuanya. Mulai dari packing, mengontrol air, mengawinkannya, sampai pembuatan kolamnya. Tujuan kita agar mereka bisa produksi,” katanya. Dari BFC yang didirikan Cuncun, telah lahir sekitar 90 angkatan peserta training dengan jumlah lebih dari 3.000 peserta dari seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.