Sukses Berbisnis Tanaman Hias dari Usaha Pembibitan

Jika dilihat dari kegiatan dan tahapan produk yang dijualnya, usaha tanaman hias dapat dibagi menjadi beberapa segmen usaha. Salah satunya adalah usaha pembibitan (breeder).

Para pelaku pembibitan tanaman hias disebut dengan breeder atau pemulia tanaman. Beberapa breeder menghasilkan bibit jenis baru melalui penyilangan. Namun, untuk menjadi seorang breeder, dibutuhkan ilmu dan keahlian khusus. Selain itu, dibutuhkan pula ketekunan dan kesabaran, karena untuk menghasilkan suatu silangan baru yang sempurna dibutuhkan waktu 5-10 tahun.

Salah satu penyilangan tanaman hias yang paling dikenal di Indonesia adalah Gregorius Hambali. Breeder asal Bogor ini telah banyak menghasilkan ratusan aglaonema hibrida yang menjadi incaran para hobiis tanaman hias. Selain itu ada juga nama Ayub S. Parnata, yang mampu menghasilkan puluhan hibrida anggrek jenis baru.

Selain melalui penyilangan, beberapa pemain menghasilkan bibit melalui perbanyakan konvesional, yaitu perbanyakan secara generatif, vegetatif, dan kultur jaringan. Perbanyakan tanaman secara generatif dilakukan dengan menanam bijinya. Sementara itu, perbanyakan vegetatif dilakukan dengan setek dan pembelahan anakan. Tanaman yang diperbanyak bisa merupakan jenis baru hasil karya para penyilang atau pemulia tanaman, bisa juga tanaman unggul hasil seleksi dari tanaman yang sudah ada. Bibit-bibit tersebut selanjutnya dijual kepada para pemain lain untuk dibesarkan.

Khusus untuk tanaman jenis baru, breeder bisa menjualnya dengan cara “jual putus” hak ciptanya atau meminta royalti atas tanaman hasil penemuannya tersebut. Namun, selama ini kebanyakan breeder di Indonesia menjual putus tanaman hasil penemuannya. Hal itu karena tanaman hasil silangan umumnya tidak memiliki hak paten yang mengikat. Bahkan kadang-kadang suatu tanaman tidak diketahui siapa penyilangnya.

Kondisi ini berbeda dengan pasar tanaman hias luar negeri, seperti Thailand dan Taiwan. Di negara tersebut, tanaman hias hasil silangan bisa mendapatkan hak paten. Dengan demikian, setiap orang yang ingin memperbanyak tanaman tersebut harus membayar sejumlah royalti kepada pemegang lisensi atau pemilik hak paten atas tanaman tersebut. Sistem seperti itu tentunya lebih menguntungkan bagi para breeder. Karenanya, bisnis tanaman hias di tingkat breeder di luar negeri lebih menjanjikan.

Sukses menjadi breeder ini diungkapkan Redaksi AgroMedia dalam buku Kaya dari Bisnis Tanaman Hias yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka. Melalui buku ini, Anda tak hanya bisa memulai usaha tanaman hias dari tingkatan pembibitan (breeder) saja, melainkan pula dari pembesaran, pengeceran, penjualan saprotan, dan penyewaan tanaman. Di samping itu, redaksi AgroMedia juga menjabarkan analisis usaha tanaman hias, gerai dan saprotan, kiat berbisnis tanaman hias dan jalur pemasaran yang biasa ditempuh oleh para hobiis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.