Menyulap Pesona Alocasia

Alocasia merupakan tanaman hias yang memiliki pesona keindahan pada penampilan daunnya yang lebar, variasi corak tulang daun, dan kerimbunannya. Tumbuhan yang termasuk famili Araceae (talas-talasan) ini, biasanya ditanam di pekarangan rumah atau taman terbuka.

Mulanya, tanaman ini tumbuh di hutan-hutan sebagai tanaman liar. Para penggiat tanaman hias dengan kesungguhannya telah mengembangkannya sehingga menjadi tanaman yang eksotis. Bahkan, dengan teknik penyilangan, tanaman ini telah berkembang menjadi ratusan varian. Sebagian besar, Alocasia memiliki daun yang sangat lebar dan mirip kuping gajah, sehingga banyak orang yang menyebutnya dengan “elephant ear“.

Guna menghasilkan Alocasia yang cantik dan memesona diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, media tanam.

Karena tanaman ini berasal dari hutan, tentu saja Alocasia menyukai tempat yang teduh, lembap, memiliki drainase yang baik, dan mengandung banyak humus dari daun-daun yang berguguran. Karena itu media tanam Alocasia hendaknya disesuaikan dengan sifat-sifat asalnya. Kadar keasaman (pH) tanah yang cocok untuk Alocasia adalah 6—7,5.

Jika ingin menanamnya di dalam pot, pilihlah media tanam yang tidak terlalu keras, bisa menahan kelembapan, tetapi memiliki porousitas yang baik. Sebab, media tanam yang keras akan menghambat pertumbuhan akar.

Para pemulia tanaman hias, di antaranya ada yang menggunakan media tanam berupa campuran sekam bakar, kompos, andam, dan pasir malang dengan perbandingan (2: 1: 1: 1). Namun, ada pula yang menggunakan campuran kompos dan pasir malang dengan perbandingan (2: 1). Atau campuran media tanam berupa kompos, sekam bakar atau mentah, dan andam (1: 3: 6).

Kedua, Pencahayaan.

Kebutuhan Alocasia terhadap cahaya matahari berbeda-beda, tergantung jenisnya. Beberapa jenis Alocasia menyukai paparan cahaya matahari penuh, terutama Alocasia yang berukuran besar, misalnya, Alocasia macrorrhizos, A. macrorrhizos “lutea”, A. gigantea, dan A. calidora.

Sedangkan, jenis Alocasia berukuran kecil umumnya tidak tahan cahaya matahari langsung. Jenis ini sering ditanam di dalam pot dan dijadikan tanaman hias indoor. Alocasia ini hanya membutuhkan pencahayaan dengan intensitas 30-45%.

Dari kelompok Alocasia ini, ada jenis yang menyukai tempat yang benar-benar teduh sehingga harus diletakkan di dalam ruangan. Misalnya, Alocasia reginula Black Velvet dan Alocasia cuprea. Jika diletakkan di dalam ruangan, tempatkan Alocasia di dekat jendela agar masih mendapat sinar matahari. Selain itu, setiap seminggu sekali tanaman harus dikeluarkan dari ruangan. Dengan demikian, tanaman juga mendapatkan sirkulasi udara yang baik.

Sedangkan Alocasia yang diletakkan di teras atau di bawah rimbunan pohon besar, seperti Alocasia melo dan A. cucullata, sebaiknya posisi pot diputar tiga hari sekali. Harapannya, tanaman mendapat cahaya dan sirkulasi udara secara merata.

Ketiga, penyiraman.

Alocasia menyukai media yang selalu lembap, tetapi tidak terlalu basah. Frekuensi penyiraman tergantung pada kondisi media tanam dan lingkungan sekitarnya. Kondisi kelembapan media yang sebenarnya bisa diketahui dengan cara memegang media tanam di bagian dalam pot.

Di daerah panas seperti Jakarta, penyiraman Alocasia perlu dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Kecuali sedang mendung, penyiraman cukup dilakukan sehari sekali, yakni pada pagi hari.

Penyiraman Alocasia di pot sebaiknya menggunakan sprayer dengan semprotan halus. Sedangkan pada Alocasia outdoor, penyiraman bisa menggunakan selang yang dipasangi nozel.

Gunakan air pompa atau air sumur untuk menyiram, karena tidak mengandung kaporit. Jika ingin menggunakan air PAM, endapkan terlebih dahulu selama satu hari sebelum digunakan agar kaporitnya menguap.

Keempat, pemupukan.

Alocasia akan tampil prima jika nutrisi atau asupan zat makanannya tercukupi. Alocasia termasuk tanaman yang rakus akan unsur hara, terutama unsur nitrogen (N). Karena itu, perlu dipupuk secara rutin dengan takaran yang sesuai agar pertumbuhannya optimal. Sebab, pemberian pupuk yang berlebihan akan mengakibatkan kerusakan tanaman. Selain itu, jenis pupuk juga harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Jadi tidak sembarang pupuk bisa cocok dengan pertumbuhan Alocasia. Lebih baik lagi bila diberikan suplemen vitamin B1.

Kelima, repotting.

Pot dan media tanam Alocasia juga perlu diganti secara berkala agar tetap menunjang perumbuhan tanaman secara optimal. Adapun faktor penyebab lainnya yang mengharuskan penggantian pot dan media tanam di antaranya sebagai berikut.

  • Media tanam sudah terlalu padat akibat penyiraman atau sebab lainnya.
  • Ukuran tanaman sudah lebih besar dari potnya.
  • Batang Alocasia sudah terlalu tinggi.
  • Muncul anakan baru dari tanaman induk yang akan dipisahkan.

Keenam, mengatasi dormansi.

Dormansi memang salah satu masalah yang sering terjadi pada Alocasia. Daun-daun Alocasia layu, kering, dan mati, sehingga tampak seperti mati. Padahal, batang di dalam tanah masih hidup. Dormansi terjadi jika kondisi lingkungan berubah sehingga tidak lagi sesuai dengan keinginan tanaman, atau karena kekeringan dan kelebihan air. Dormansi bisa dicegah apabila selalu menjaga kondisi ideal lingkungan sekitar.

Jika langkah-langkah di atas sudah Anda praktikkan, dijamin, Alocasia kesayangan Anda bisa tampil lebih cantik dan memesona.

*Artikel lepas ini diintisarikan dari buku Mempercantik Daun Alocasia yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.