Buka-bukaan Strategi Bertahan untuk Kedai Kopi bersama Andika Ajie Sastra, CEO Dewaji Coffeelab

Urusan minum kopi tetap tidak mengenal situasi apa pun. Biji hitam kopi terlanjur menjadi candu yang tidak tergantikan. Konsumen kopi selalu ada apa pun situasinya. Namun sayangnya, kebiasaan nongkrong di sebagian besar kedai kopi belum bisa dilakukan dan memilih untuk melayani take away dalam situasi pandemi seperti ini.

Sementara itu, dari sisi produsen kopi, termasuk di dalamnya petani kopi, distributor, hingga roastery, mengalami kendala, terutama dalam hal pengiriman dan supply kopi. Timbul pertanyaan, bagaimana nasib kedai kopi ke depan? Dan, bagaimana harus bertahan dalam kondisi serba sulit dan terbatas seperti saat ini?

Minggu sore (7-08-2020), Penerbit Agromedia membuka diskusi online dalam obrolan live di Instagram bertema “Bertahan di Tengah Krisis; Mengelola Usaha Kopi Saat & Pasca-Pandemi ala Dewaji Coffelab”. Obrolan sore yang dipandu Purwadaksi Rahmat, Redaktur Agromedia ini mengundang Andika Ajie Sastra, CEO Dewaji Coffelab.

PSBB Gak Harus Bikin Usaha Kopi ‘Memble’

Menurut Ajie, adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak harus membuat para pemilik kedai kopi berdiam dan menunggu situasi pandemi yang entah kapan mereda. Sebab realita di lapangan saat ini menggambarkan bahwa penjualan kopi saat ini tidak semanis sebelum masa pandemi Covid-19. Lalu apa yang harus dilakukan? Jawaban awal tentu saja pemilik kedai kopi perlu adaptif dan kreatif jika brand yang telah dimilikinya ingin tetap dikenal dan bertahan.

Waktu selama tiga bulan ini bisa dimanfaatkan untuk berdiskusi, menyusun strategi penjualan, dan menyiapkan SOP saat dan pasca-pandemi. “Sebab yang tahu permasalah internal kedai kan kita sendiri, jadi solusinya kembali kepada kita sendiri,” jelas Ajie.

Ajie juga mencoba berbagi pengalaman seputar tip penjualan, pengelolaan SDM, protokol kebersihan kedai, dan mengatur finansial perusahaan. “Usahakan semaksimal mungkin kita tidak memiliki beban hutang, walaupun caranya harus melakukan penjualan aset. Dalam situasi ini, kedai coba bergerak memanfaatkan dana cadangan,” tukas Ajie.

Barista Harus (tetap) Bekerja

Bagaimana pengelolaan karyawan? Hal ini tentu dirasakan oleh setiap pemilik perusahaan, termasuk kedai kopi. Pilihan merumahkan sementara atau menawarkan karyawan, termasuk di dalamnya barista, pramusaji, dan kasir, untuk bekerja dengan gaji yang disesuaikan. Memang bisa saja dilakukan para owner kedai. Tetapi, bagi Ajie, hal tersebut bukan satu-satunya pilihan. Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar para karyawan tetap bisa bekerja dengan memanfaatkan keahlian lain dari karyawan tersebut, sehingga walaupun kondisi keuangan terbatas, kedai tetap bisa berjualan. Namun, semua ini kembali kepada kondisi keuangan masing-masing perusahaan.

Giat Promosi dan Inovasi

Selain lewat layanan take away, strategi daring lewat berbagai saluran antara lain seperti market place dan media sosial menjadi keharusan. Kedai kopi juga bisa mengenalkan kopi susu literan menjadi perilaku baru yang menarik di masa pandemi. Promosi juga bisa dilakukan dengan pembelian kopi gratis gimmick, atau free shipping radius 5 km. Bisa juga menciptakan menu baru tanpa mengurai kualitas tetapi disesuaikan dengan bahan dasarnya. Banyak hal lain yang bisa dilakukan, yang penting konsumen dapat tersalurkan keinginan minum kopinya tanpa mengenyampingkan protokol kesehatan, tutup Ajie.

Terkait hal pengelolaan kedai kopi bisa dibaca di dalam buku A to Z Memulai dan Mengelola Usaha Kedai Kopi, ditulis oleh Dani Hamdan dan Andika Ajie Sastra, dan diterbitkan oleh Agromedia Pustaka. Untuk pemesanan klik link berikut.

 

foto: shutterstock.com

Tinggalkan Balasan